Tugas Bahasa Indonesia ke-2

Nama : Yuliawati
Npm  : 11208331
Kelas : 3EA10


Perbedaan Karangan
1.     Latar Belakang Masalah
1.1  Latar Belakang
Banyaknya bentuk dan tulisan di media cetak membuat kita ragu untuk membuat klasifikasi tentang sebuah karangan. Pada dasarnya karangan dibagi menjadi tiga yaitu karangan ilmiah, karangan semi ilmiah dan karangan non-ilmiah. Perbedaan itu terletak dari fakta yan g disajikan oleh masing-masing karangan, selain itu tata cara penulisan dari masing-masing karangan sangat berbeda. Dimana karangan ilmiah lebih berdasarkan sistematika penulisan dan fakta yang didapatkan dengan cara observasi, sedangkan karangan semi ilmiah lebih kepada fakta pribadi, sedangkan karangan non-ilmiah tidak didkung oleh fakta yang umum. Tetapi, ketiga jenis karangan diatas mempunyai kesamaan yaitu sama-sama karya tulis.
Karya tulis merupakan uraian atau laporan tentang kegiatan, temuan, atau informasi yang berasal dari data primer dan/atau sekunder, serta disajikan untuk tujuan serta sasaran tertentu. Informasi tersebut dapat berasal dari data primer, yaitu didapatkan dan dikumpulkan langsung dan belum diolah dari sumbernya, seperti melalui dokumen (misal laporan), hasil penelitian, jurnal, majalah maupun buku. Penyusunan karya tulis tersebut dimaksudkan utnuk menyebarkan hasil tulisan atau laporan tersebut dengan tujuan tertentu yang khusus, sehingga dapat dimanfaatkan oleh orang lain yang tidak terlibat dalam kegiatan penulisan tersebut. Dengan demikian, sasaran penulisan karya tulis adalah untuk: (1) masyarakat tertentu seperti para ilmuwan, (2) masyarakat luas, baik secara perorangan atau kelompok, (3) pemerintah atau lembaga tertentu.
1.2  Masalah
Apakah macam, sifat, dan ciri-ciri dari karangan?
Bagaimana cara membedakan karangan ilmiah, semi ilmiah dan non-ilmiah di dalam kraya tulis?
2. Penjabaran Isi
            2.1 Karya Tulis Imiah
Karya tulis ilmiah adalah suatu tulisan yang membahas suatu permasalahan. Pembahasan itu dilakukan berdasarkan penyelidikan, pengamatan, pengumpulan data yang diperoleh melalui suatu penelitian. Karya tulis ilmiah melalui penelitian ini menggunakan metode ilmiah yang sistematis untuk memperoleh jawaban secara ilmiah terhadap permasalahan yang diteliti. Untuk memperjelas jawaban ilmiah berdasarkan penelitian, penulisan karya tulis ilmiah hanya dapat dilakukan sesudah timbul suatu masalah, yang kemudian dibahas melalui penelitian dan kesimpulan dari penelitian tersebut.
a. jenis-jenis karangan ilmiah
·         Makalah
Makalah adalah segala bentuk karangan ilmiah tertulis, baik sebagai hasil pembahasan buku maupun sebagai hasil karangan tentang suatu pokok persoalan.
·      Studi Kepustakaan (Penelaahan Teoritis)
Penelahaan gagasan berbagai ahli mengenai suatu masalah untuk diperbandingkan. Kemudian ditarik kesimpulan menurut pandangan penulis.
·      Tinjauan Historik(Historical Review)
Di sini dilakukan pencatatan cermat berdasarkan urutan perkembangan dari masalah yang ditinjau. Dibuat sesingkat mungkin, tetapi lengkap dan disukung dengan acuan yang memadai.
·      Deskripsi Prosedur Teknis Praktis
Penggambaran suatu teknik dengan cara-cara teratur dan mudah dimengerti, secara langkah demi langkah. Selain menyatakan tujuan dari penggunaan cara teknis ini, penggambaran ini juga memuat ringkasan tentang keuntungan dan kerugiannya. Walaupun memberikan kemungkinan sejawat lain untuk menilai, cara ini hendaknya jangan memberi suatu jaminan tentang efektivitasnya.
·         Laporan Kasus
Uraian ini oleh penulisanya dimaksudkan sebagai laporan tentang suatu hasil pengamatan/tindakan pemecahan masalah yang belum banyak diketahui orang. Percobaannya cukup dilakukan pada satu atau beberapa kasus saja.
·      Laporan Penelitian
Suatu laporan tentang penelitian yang telah diselesaikan oleh penulis. Berbeda dengan laporan kasus, di sini masalahnya diambil dari sekelompok anggota masyarakat. Percobaannya sendiri dilakukan dengan mengikuti suatu metodologi yang terarah dan terinci.
·      Skripsi
Suatu karya tulis singkat yang didasari oleh penelitian berupa bahan-bahan bacaan atau obeservasi lapangan. Pembuatan karya tuli ini biasanya merupakan salah satu persyaratan wajib guna menyelesaikan suatu jenjang pendidikan tertentu, biasanya Program D-3 atau Strata Satu.
·      Tesis
Karya tulis ini hampir sama dengan skripsi, tetapi lebih mendalam dan merupakan laporan suatu penenlitian yang dilakukan dengan seksama serta menurut metodelogi penelitian. Tesis biasanya merupakan karya tulis akhir Program Strata Dua/Magister atau Program Spesialis Satu.
·      Disertasi
Istilah yang digunakan untuk karangan ilmiah yang dibuat dalam mencapai gelar tertinggi di sebuah universitas, yaitu Program Strata Tiga?doktor. Biasanya ada ketentuan-ketentuan khusus dari universitas yang bersangkutan, tentang persyaratan yang berhubungan dengan prosedur ilmiah dan bentuk disertasinya.
Contoh karangan ilmiah berupa  Tinjaun Historis :
1.  Tinjauan Historis Yuridis Pengusahaan Pertambangan Migas di Indonesia
a. Pengusahaan Pertambangan dilakukan oleh Kontraktor sebagai
Pemegang Konsesi
Pemberian Konsesi Pertama Kalinya
Pada masa pra kemerdekaan, pencarian minyak bumi secara komersial dilakukan pertama kali pada tahun 1871 oleh pengusaha Belanda Jan Reerink, yang kemudian pada tahun 1883 Aeilko Jans Zijlker melakukan eksploitasi minyak dengan membentuk badan usaha komersial, dengan Konsesi Telaga Said dari Sultan Langkat..
Tumbuhnya Perusahaan Minyak di Hindia Belanda
Adanya penemuan minyak mendorong tumbuhnya perusahaan minyak yaitu Royal Dutch Petroleum Company pada tanggal 16 Juni 1890 yang memproduksi, mengolah dan memasarkan minyak bumi dengan mengambil alih Konsesi Telaga Said.
Adapun Perusahaan lain yang beroperasi adalah Shell Transport and
Trading yang membangun kilang pengolahan di Balikpapan, Kalimantan Timur pada tahun 1894. Titik Awal Pengaturan Pengusahaan Pertambangan Migas oleh Pemerintah Hindia Belanda
Menyadari akan besarnya potensi sumber daya migas Indonesia dan besarnya revenue yang mungkin didapatkan, Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1899 mengeluarkan ”Indische Mijn Wet (IMW)yang mana menurut ketentuan
Pasal 5a, Pemerintah Hindia Belanda berwenang untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi serta mengadakan kerjasama dengan perusahaan minyak dalam bentuk kontrak 5A atau Sistem Konsesi.
Dengan Sistem Konsesi, perusahaan pertambangan tidak hanya diberikan kuasa pertambangan, tetapi diberikan pula hak menguasai hak atas tanah. Beberapa perubahan dilakukan atas IMW yaitu pada tahun 1900 dan tahun 1904 untuk memperkuat kedudukan Shell. Pada tahun 1918, IMW dirubah kembali dengan ketentuan yang memberikan kelonggaran untuk mendapatkan konsesi baru.
Asas Non Diskriminasi menjadi Dasar “Legitimasi” Tekanan dari Pemerintah Amerika kepada Belanda
Walaupun IMW telah dirubah dengan memberikan kelonggaran pemberian konsesi baru, namun diskriminasi yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda terhadap perusahaan minyak baru tetap terjadi. Hal tersebut menimbulkan protes dari Pemerintah Amerika yang diwujudkan dengan mengeluarkan ”General Leasing Actpada tahun 1920.
Berdasarkan Undang-Undang dan Asas Non Diskriminasi, Pemerintah Amerika dapat menolak permohonan konsesi perusahaan Belanda di Amerika jika permohonan konsesi perusahaan Amerika di daerah kekuasaan Belanda termasuk Hindia Belanda ditolak tanpa alasan yang benar dan jelas. Pendudukan Jepang dan Masa-Masa Kemerdekaan Penyerbuan Jepang di Hindia Belanda telah mengakibatkan adanya taktik bumi hangus beberapa instalasi migas. Kepergian Belanda telah membawa serta teknologi, pengetahuan dan skill yang tidak dapat digantikan oleh Jepang. Pada masa kemerdekaan, kemerdekaan pengelolaan sumber daya alam migas untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat telah dituangkan secara yuridis dalam Pasal 33 UUD 1945.
Pada September 1945 Jepang menyerahkan tambang Pangkalan Brandan, disusul pembentukan Perusahaan Tambang Minyak Negara Republik Indonesia (PTMNRI) yang di tahun 1954 berubah nama menjadi PT. Tambang Minyak Sumatera Utara (PT.TMSU). Sementara di Sumatera Selatan dibentuk Perusahaan Minyak Republik Indonesia (PERMIRI), dan Perusahaan Tambang Minyak Nasional (PTMN) di Jawa Tengah.
Awal Mula Kebijakan pada sektor Pengusahaan Pertambangan Migas
Soemitro Djojohadikoesoemo sebagai Menteri Perdagangan dan Industri yang membawahi sektor migas mengarahkan kebijaksanaannya untuk menarik sebanyak-banyaknya investor agar tercipta pertumbuhan ekonomi. Salah satu cara yang ditempuh adalah meningkatkan kepercayaan masyarakat Internasional dengan mematuhi hasil Konperensi Meja Bundar, yang salah satu keputusannya adalah Indonesia diwajibkan mengembalikan NIAM dan Shell untuk menjalankan pengusahaan pertambangan berdasarkan konsesi yang dimilikinya.
Konsesi Pengusahaan Migas Tidak Menguntungkan Indonesia
Pada Agustus 1951, Mr. Mohammad Hasan selaku Ketua Komisi Perdagangan dan Industri DPR telah melakukan penelitian yang menghasilkan 2 (dua) kesimpulan yaitu:
1. diyakini penuh, dengan berbagai alasan yang kuat, bahwa ladang-ladang minyak di Sumatera Utara dapat dinasionalisasi dengan pembayaran ganti rugi sedemikian rupa;
2. Indonesia tidak mendapatkan pembagian setimpal atas operasi minyak asing menurut perjanjian Konsesi dan peraturan perpajakan yang berlaku.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diajukan mosi kepada Pemerintah untuk membentuk Panitia Negara Urusan Pertambangan dengan tugas diantaranya adalah mempersiapkan rencana undang-undang pertambangan dan mengajukan usul mengenai pertambangan yang menguntungkan Pemerintah. Atas desakan DPR, Pemerintah kemudian menunda pemberian konsesi eksploitasi maupun perpanjangannya sampai Panitia Negara Urusan Pertambangan memberikan rekomendasi.
(Wacana diatas dikutip dari “TINJAUAN HISTORIS YURIDIS TERHADAP PENGUSAHAAN
PERTAMBANGAN MINYAK BUMI DAN GAS DI INDONESIA”)
b. Sifat  Karangan Ilmiah
·         Non teknis Kongkrit : informatif, bernada populer, spesifik dan kongkrit, tanpa ajakan emosional pembaca dengan pengetahuan ilmiah dasar.
·         teknis umum : informatif, teknis tidak untuk kepentingan pribadi, masalaha secara umum, kongkrit, tidak ada ajakan emosional, ditujukan kepada pembaca berpengatahuan teknis.
·         abstrak normal : Informatif, umum, non teknis, tidak untuk kepentingan pribadi, menyertakan pendapat orang lain tanpa bukti, tidak ada ajakan emosional, populer.
·     spesifik historis : informatif, sumber sejarah, tanpa ajakan emosional, tidak untuk kepentingan pribadi, tidak memuat penilaian, kongkret, spesifik, semi teknis, bahasa dan susunan normal.
c. Ciri-ciri karangan ilmiah:
a.       Menyajikan fakta obyektif secara sistematis.
b.      Pernyataannya cermat, tepat, tulus, dan benar, serta tidak memuat terkaan.
c.       Penulisnya tidak mengejar euntungan peribadi.
d.      Penyususnannya dilaksanakan secara sistematis, konseprual dan prosedural
e.      Tidak memuat pandangan-pandangan tanpa dukungan fakta
f.        Tidak memuat emotif menonjol
g.       Tidak bersifat argumentif, tetpai kesimpulannya terbentuk atas fakta.


2.2 Karangan Semi ilmiah
    Karangan semi ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta pribadi dan di tulis sesuai metodologi penulisan yg benar.
a.   Jenis-jenis karangan semia ilmiah
· Artikel
Definisi artikel atau pengertian artikel dibahas oleh berbagai tulisan dan literatur, namun menurut kangmoes, definisi yang paling ringkas dan paling sederhana adalah definisi artikel menurut kamus besar bahasa indonesia. Menurut KBBI, pengertian artikel adalah “karya tulis lengkap” misalnya laporan berita atau esai dalam majalah. Menurut definisi ini sebuah artikel idelanya membahas seluk beluk suatu tema secara tuntas.
·      Editor
      Kata editing berasal dari bahasa Inggris, yaitu  dari akar kata  edit yang  artinya membaca, memperbaiki  dan mempersiapkan naskah untuk diterbitkan. Kata editing telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi penyuntingan. Orang yang mengerjakan editing disebut editor (bahasa Inggris) dan disebut penyunting (bahasa Indonesia).  Sedangkan proses pengerjaannya disebut copyediting. Dalam bidang penelitian,  kata editing diartikan sebagai kegiatan meneliti atau memeriksa naskah (manuscript)  untuk menjaga kebenaran dan kesahihannya.
·      Opini
     Secara garis besar opini dapat didefinisikan sebagai apa yang dinyatakan oleh seseorang dalam menjawab suatu peertanyaan. Pada awalnya opini yang terbentuk berasal dari personal opinion atau opini persona, yaitu pebnafsiran individual mengenai berbagai masalah dimana terhadapnya tidak terdapat suatu pandangan yang sama.
·      Tips
     Merupakan anjuran-anjuran agar suatu tujuan tercapai. Tips bersifat karangan yang singkat hanya terdiri dari beberapa baris.
·      Resensi Buku
      Resensi berasal dari bahasa latin 'recensere' artinya melihat kembali, menimbang, atau menilai. Punya maksud atau makna sejajar dengan review dalam bahasa Inggris (Slamet Soewandi, 1977). Sedangkan menurut buku "Kamus Istilah Sastra" yang ditulis oleh Panuti Sudjiman (1984) dijelaskan bahwa resensi berarti hasil pembahasan dan penilaian yang pendek tentang suatu karya tulis. Jadi, arti resensi mengacu kepada mengulas sebuah buku. Konteks ini memberi arti penilaian, mengungkap secara sekilas, membahas, atau mengkritik buku.
Contoh karangan semi ilmiah berupa Tips :
Tips Belajar Efektif
Ada baiknya Anda membuat persiapan yang baik buat satu semester ke depan. Tak ubahnya para peserta diri yang dituntut mempersiapkan segala keperluan, seperti buku pelajaran, buku tulis atau baju seragam. Selain itu, ada beberapa hal penting yang perlu Anda perhatikan, Pertama, tentukan target Anda di semester ini apa. Kemudian buat jadwal harian yang isinya langkah-langkah menuju target tersebut. Supaya target belajar goal-nya lebih cepat, berikut ada beberapa tips bagaimana cara belajar yang efektif, yang telah teruji oleh beberapa negera maju. Tips ini bias Anda jalankan sendiri, atau ditularkan kepada peserta didik Anda.
1. Seorang teman dari Amerika memberi saran belajar yang dia dapat dari ayahnya. Hari pertama sekolah, ulang kembali pelajaran yang telah didapat. Setelah itu baca singkat dua halaman materi berikutnya buat cari kerangkanya saja. Begitu pelajaran tersebut diterangkan guru esoknya, Anda sudah punya gambaran atau dasarnya, tinggal menambahkan saja apa yang belum Anda tahu. Jadi begitu pulang sekolah, tinggal mengulang saja untuk mencari kesimpulan atau ringkasan.
2. Usahakan selalu konsentrasi penuh waktu mendengarkan pelajaran yang disampaikan guru atau totor. Materi yang Anda dengar bakal mudah dipanggil lagi begitu Anda menghapal ulang pelajaran tersebut.
3. Beberapa teman juga merekomendasikan untuk mengetik ulang catatan pelajaran ke dalam komputer. Logikanya, dengan mengetik ulang catatan berarti sama saja dengan membaca ulang pelajaran yang baru saja didapat dari sekolah. Materi yang diulang tadi bisa tersimpan di memori otak buat jangka waktu yang lama. Lebih bagus lagi kalo membacanya kembali atau mempelajari catatan tersebut setelah diketik.
4. Cara lain adalah dengan membaca ulang catatan pelajaran kemudian buat kesimpulan dengan kalimat sendiri. Supaya dapat terpatri lama di memori, tulis kesimpulan tadi di secarik kertas kecil seukuran kartu nama. Kartu-kartu tersebut efektif untuk mengulang dan membaca singkat kala senggang.
5. Teman lainnya menyarankan untuk selalu menggunakan buku catatan yang berbeda pada setiap mata pelajaran. Cara ini dinilai lebih teratur sehingga pada waktu ingin mengulang suatu pelajaran kita tidak perlu lagi harus membuka semua buku.
6. Mengulang pelajaran tidak selamanya harus dengan membaca atau menulis. Mengajari teman lain tentang materi yang baru diulang bisa membuatmu selalu ingat akan materi tersebut. Bagusnya lagi, Anda menjadi lebih paham akan materi tersebut.
7. Belajar mendadak menjelang tes memang tidak efektif. Paling tidak sebulan sebelum ulangan adalah masa ideal buat mengulang pelajaran. Materi yang banyak bukan masalah. Caranya: selalu buat ringkasan atau kesimpulan pada setiap pelajaran, kalau perlu pakai tabel atau gambar ilustrasi supaya mudah diingat.
8. Ada beberapa teman di Australia yang menyukai waktu belajar pada siang hari. Maklum, badan masih segar setelah tidur cukup di malam hari, jadi semangat masih tinggi. Kondisi yang bagus tersebut tidak mereka sia-siakan begitu saja. Pagi mereka konsentrasi penuh pada pelajaran di kelas dan siangnya konsentrasi untuk mengulang kembali. Malam hari hanya mereka gunakan untuk mengerjakan aktivitas ringan atau pekerjaan rumah. Jadi tidak pernah ada kata begadang.
9. Kalau badan capek, bakal susah buat konsentrasinya. Beberapa teman menyarankan untuk libur dulu dari acara olah raga atau kegiatan fisik lainnya sehari menjelang ulangan umum.
10. Belajar sambil mendengarkan musik memang asyik. Pilih music yang tenang tapi menggugah. Musik klasik macam Beethoven ato Mozart bisa dicoba. Musik tipe ini cocok banget buat menemani kamu selama mengerjakan tugas yang jawabannya sudah pasti, seperti matematika, ilmu alam atau bahasa asing. Dijamin stamina belajar Anda akan selalu berisi dan penuh semangat.
Memang bingung ya kalau semua orang saling memberi tahu apa yang harus dikerjakan. Paling penting adalah utamakan prioritas Anda. Karena biasanya kita menilai diri sendiri dari apa yang dirasakan, sedang orang lain hanya melihat dari apa yang telah kita hasilkan. Sementara apa yang bisa kita hasilkan hanya kita sendiri yang tahu. Jadi, buat target yang kamu percaya mampu meraihnya bukan apa yang dipikirkan orang lain. Begitu juga dengan cara belajar efektif, pilih cara baik mana yang paling pas dengan kondisi Anda. Selamat mencoba!
b.      Ciri-ciri karangan semi ilmiah
·         Ciri ciri karangan ini diantaranya :
·         Ditulis berdasarkan fakta Pribadi.
·         Fakta yg di simpulkan subyektif.
·         Gaya bahasa formal dan populer.
·          Mementingkan diri penulis.
·          Melebih lebihkan sesuatu.
·          Usulan bersifat Argumentatif.
·          Bersifat Persuasif.
2.3 Karangan Non-Ilmiah
Karangan non-ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa digunakan (tidak terlalu formal).
a.           Jenis-jenis karangan Non-Ilmiah
·         Dongeng
Dongeng adalah cerita sederhana yang tidak benar-benar terjadi, misalnya kejadian-kejadian aneh di jaman dahulu. Doneng berfungsi menyampaikan moral dan juga menghibur. Dongeng termasuk certa tradisional dapat disebarkan secara luas ke berbagai tempat. Kemudian, cerita itu disesuaikan dengan kondisi daerah setempat.
·         b.Cerpen
Cerpen adalah Cerpen, akronim dari cerita pendek, merupakan jenis prosa yang baru berkembang pada masa modern.
·         Novel
Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif, biasanya dalam bentuk cerita. Novel lebih panjang (setidaknya 40.000 kata) dan lebih kompleks dari cerpen, dan tidak dibatasi keterbatasan sruktural dan metrical sandiwara atau sajak. Umumnya sebuah novel bercerita tentang tokoh-tokoh dan kelakuan mereka dalam kehidupan sehari-hari, dengan menitik beratkan pada sisi-sisi yang aneh dan naratif tersebut.
·         Drama
Drama berarti perbuatan, tindakan. Berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya. Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak. Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama.
·         Roman
Roman adalah sejenis karya sastra dalam bentuk prosa atau gancaran yang isinya melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing.
Contoh karangan Non-ilmiah Berupa dongeng:
KISAH POHON APEL
Suatu masa dahulu, terdapat sebatang pohon apel yangamat besar. Seorang kanak-kanak lelaki begitu gemarbermain-main di sekitar pohon apel ini setiap hari.Dia memanjat pohon tersebut, memetik serta memakanapel sepuas-puas hatinya, dan adakalanya diaberistirahat lalu terlelap di perdu pohon apeltersebut. Anak lelaki tersebut begitu menyayangitempat permainannya. Pohon apel itu juga menyukai anaktersebut.
Masa berlalu… anak lelaki itu sudah besar danmenjadi seorang remaja. Dia tidak lagi menghabiskanmasanya setiap hari bermain di sekitar pohon apeltersebut. Namun begitu, suatu hari dia datang kepadapohon apel tersebut dengan wajah yang sedih. “Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohonapel itu.” Aku bukan lagi kanak-kanak, aku tidak lagi gemarbermain dengan engkau,” jawab remaja itu.” Aku mahukan permainan. Aku perlukan wang untukmembelinya,” tambah remaja itu dengan nada yang sedih.Lalu pohon apel itu berkata, ”
Kalau begitu, petiklahapel-apel yang ada padaku. Juallah untuk mendapatkanuang. Dengan itu, kau dapat membeli permainan yang kauinginkan.”
Remaja itu dengan gembiranya memetik semua apel dipohon itu dan pergi dari situ. Dia tidak kembali lagiselepas itu. Pohon apel itu merasa sedih. Masa berlalu…Suatu hari, remaja itu kembali. Dia semakin dewasa.
Pohon apel itu merasa gembira.”Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohonapel itu.”Aku tiada waktu untuk bermain. Aku terpaksa bekerjauntuk mendapatkan uang. Aku ingin membina rumahsebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Bolehkahkau menolongku?” Tanya anak itu.”
Maafkan aku. Aku tidak mempunyai rumah. Tetapi kauboleh memotong dahan-dahanku yang besar ini dan kaubuatlah rumah daripadanya.” Pohon apel itu memberikancadangan.Lalu, remaja yang semakin dewasa itu memotong kesemuadahan pohon apel itu dan pergi dengan gembiranya. Pohon apel itu pun turut gembira tetapi kemudiannyamerasa sedih karena remaja itu tidak kembali lagiselepas itu.
Suatu hari yang panas, seorang lelaki datang menemuipohon apel itu. Dia sebenarnya adalah anak lelaki yangpernah bermain-main dengan pohon apel itu. Dia telahmatang dan dewasa.”Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohonapel itu.” Maafkan aku, tetapi aku bukan lagi anak lelaki yangsuka bermain-main di sekitarmu. Aku sudah dewasa. Akumempunyai cita-cita untuk belayar. Malangnya, akutidak mempunyai boat. Bolehkah kau menolongku?” tanyalelaki itu.”
Aku tidak mempunyai boat untuk diberikan kepada kau. Tetapi kau boleh memotong batang pohon ini untukdijadikan boat. Kau akan dapat belayar dengangembira,” kata pohon apel itu.Lelaki itu merasa amat gembira dan menebang batangpohon apel itu. Dia kemudiannya pergi dari situ dengangembiranya dan tidak kembali lagi selepas itu. Namunbegitu, pada suatu hari, seorang lelaki yang semakindimamah usia, datang menuju pohon apel itu. Dia adalahanak lelaki yang pernah bermain di sekitar pohon apelitu.”
Maafkan aku. Aku tidak ada apa-apa lagi untukdiberikan kepada kau. Aku sudah memberikan buahkuuntuk kau jual, dahanku untuk kau buat rumah, batangkuuntuk kau buat boat. Aku hanya ada tunggul dengan akaryang hampir mati…” kata pohon apel itu dengan nada pilu.”
Aku tidak mahu apelmu kerana aku sudah tiada bergigiuntuk memakannya, aku tidak mahu dahanmu kerana akusudah tua untuk memotongnya, aku tidak mahu batangpohonmu kerana aku berupaya untuk belayar lagi, akumerasa lelah dan ingin istirahat,” jawab lelaki tua itu.”
Jika begitu, istirahatlah di perduku,” kata pohonapel itu.Lalu lelaki tua itu duduk beristirahat di perdu pohonapel itu dan beristirahat. Mereka berdua menangiskegembiraan.
Tersebut. Sebenarnya, pohon apel yang dimaksudkan didalam cerita itu adalah kedua-dua ibu bapa kita. Bilakita masih muda, kita suka bermain dengan mereka.Ketika kita meningkat remaja, kita perlukan bantuanmereka untuk meneruskan hidup. Kita tinggalkan mereka,dan hanya kembali meminta pertolongan apabila kita didalam kesusahan. Namun begitu, mereka tetap menolongkita dan melakukan apa saja asalkan kita bahagia dangembira dalam hidup.Anda mungkin terfikir bahwa anak lelaki itu bersikapkejam terhadap pohon apel itu, tetapi fikirkanlah, ituhakikatnya bagaimana kebanyakan anak-anak masa kinimelayan ibu bapa mereka. Hargailah jasa ibu bapakepada kita. Jangan hanya kita menghargai merekasemasa menyambut hari ibu dan hari bapa setiap tahun.
b.        Sifat karangan non-ilmiah
·         Emotif : Sedikit informasi, kemewahan dan cinta menonjol, melebihkan kebenaran mencari keuntungan, tidak sistematis.
·         Persuasif : cukup informatrif, penilaian fakta tidak dengan bukti, bujuan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap dan cara berpikir pembaca.
·         Deskriptif : informatif sebagian imaginatif dan subyektif, nampaknya dapat dipercaya, pendapat pribadi.
·         Kritik(tanpa dukungan bukti) : tidak memuat informasi spesifik, berisis bahasan dan kadang-kadang mendalam tanpa bukti, berprasangka menguntungkan atau merugikan formal tetapi sring dengan bahasa kasar, subyektif dan pribadi.
c.                                                     Ciri-ciri karangan Non-ilmiah
·         Penyajiannya lebih bersifat subyektif
·         Mengandung ususlan dengan efek kesimpulan yang diharapkan penulis.
·         Bersifat persuasif, sesuai dengan keyakinan penulis yang mengajak pembaca untuk berubah pendapat.
·         Pandangan yang dikemukakan penulis didukung fakta umum.
·         Motivasinya lebih mementingkan diri sendiri, karena itu isisnya bisa melebih-lebihkan sesuatu.
·         Kesimpulan penulis lebih bersifat argumentatif, sehingga kurang atau tidak mebiarkan fakta berbicara sendiri.

3. Simpulan
Pada dasarnya karangan Ilmiah, semi ilmiah dan non-ilmiah dapat dibedakan pada prosedur penulisannya. Karangan ilmiah dan semi ilmiah lebih kepada sistematika penulisan yang berlaku, dimana karya ilmiah dukung oleh fakta yang tercipta di masyarakat sedangkan karya semi ilmiah lebih kepada fakta pribadi dan karangan non-ilmiah lebih mengacu kepada daya pemikiran manusia tanpa didukung oleh fakta maupun metodelogi penelitian untuk membuktikannya.
Selain itu, karangan itu juga karangan mempunyai penerapan yang berbeda yaitu dimana karangan ilmiah lebih kepadfa pembuktiaan tentang suatu fonemena yang terjadi yang dibuktikan dengan abstrak dalam sistematika pembuatannya, sedangkan karangan non-ilmiah lebih kepada penjabaran isi, dimana isinya menghibur dan lebih ekspresif dibandingkan dengan karangan ilmiah dan semi ilmiah.

4. Daftar Pustaka
·         Arifin,Zaenal,E dan Tasai,Amran,S.1992.Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan tinggi. Akademika Presisindo.
·         Wahyu. R.N., Tri 2006. Bahasa Indonesia. Universitas Gunadarma, Jakarta.
·         Purwanto,Djoko. 2006. Komunikasi Bisnis. Edisi ketiga. Jakarta: Penerbit Erlangga.
·         Isdaryanto. 24 februari 2011. Kisah pohon apel. http://blog.isdaryanto.com/kumpulan-cerita-dongeng-anak-anak
·         Tinjauan historis yuridis terhadap pengusahaan pertambanfan minyak bumi dan gas di indonesia. http://www.jdih.bpk.go.id/informasihukum/HisYuridis_usahamigas.pdf.
·         Adm02. Tips belajar efektif. 24 februari. http://alfurqon.or.id/component/article/64-guru/335-tips-belajar-efektif.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tugas Bahasa Indonesia ke-1

Nama  : Yuliawati
Npm : 11208331
Kelas : 3EA10
Bahasa Indonesia

PENALARAN
1.      Latar Belakang Masalah
1.1  Latar Belakang
Setelah proses membaca selesai kita terkadang membayangkan dan berimajinasi tentang apa yang telah dibaca, dalam proses membaca kajuian yang kita dapatkan hanya sebatas teoritis dan belum termasuk dalam hal praktis. Setelah proses membaca usai otak memprosesnya menjadi suatu khayalan, tingkat khayalan yang peertama adalah khayalan tanpa sadar dari buku yang telah di baca secara harfiah dapat disebut sebagai berpikir. Pada tingkat yang lebih tinggi dilakukan secara sadar, tersusun dalam urutan yang saling berhubungan, dabn bertujuan untuk sampai kepada suatu kesimpulan. Dalam dalam proses penalaran data atau fakta yang digunakan boleh benar dan tidak benar, karena penalaran dapat bekerja apabila terdapat dua hal yang berbeda.
Pada konsepnya penalaran adalah suatu proses berpikir manusia untuk menghubung-hubungkan data atau fakta yang ada sehingga sampai pada suatu kesimpulan. Dalam prosesnya, penalaran dibedakan menjadi dua yaitu penalaran induktif dan deduktif.
1.2  Masalah
Bagaimana proses penalaran?
Bagaimana berpikir secara deduktif dan induktif serta apa saja jenis-jenisnya?
2.      Penjabaran Isi
2.1  Proposisi dan term.
Proposisi adalah kalimat logika yang merupakan pernyataan tentang hubungan antara dua atau beberapa hal yang dapat dinilai benar atau salah. Suatu proposisi mempunyai subjek dan predikat. Dengan demikian, proposisi pasti berbentuk kalimat, tetapi tidak setiap kalimat dapat digolongkan ke dalam proposisi. Hanya kalimat berita netral yang dapat disebut proposisi. Kalimat Tanya, kalimat perintah, kalimat harapan, dan kalimat inverse tidak dapat disebut proposisi. Kalimat-kalimat itu dapat dijadikan proposisi apabila diubah bentuknya menjadi kalimat berita yang netral.
Kalimat berikut ini bukan proposisi
a.       Bangsa burungkah ayam ?
b.      Mudah-mudahan Indonesia menjadi makmur.
c.       Berdirilah kamu di pinggir pantai
Kalimat-kalimat itu dapat diubah menjadi proposisi sebagai berikut :
a.       Ayam adalah burung
b.      Indonesia menjadi makmur
c.       Kamu berdiri di pinggir pantai.
Dari uraiang di atas ini dapat dikatakan bahwa proposisi itu harus terdiri atas subjek dan predikat yang masing-masing dapat diwujudkan dalam kelompoknya sehingga dapat dilihat hubungan kelompok subjek dan kelompok predikat.
Dalam hal hubungan kelompok predikat dalam proposisi, seorang ahli logika bangsa Swiss, Euler, yang hidup pada abad XVIII mengemukakan konsepnya dengan empat jenis proposisi dengan lima macam posisi lingkaran. Lingkaran itu disebut Euler.
Keempat jenis proposisi itu adalah sebagai berikut :
1.      1. Suatu perangkat yang tyercakup dalam subjek menjadi bagian   dari    perangkat predikat.
Semua S adalah P
Semua sepeda beroda





Sebaliknya suatu perangkat predikat merupakan bagian dari perangkat subjek.
Sebagian S adalah P
Sebagian binatang adalah kera





1.    2.   Suatu perangkat yang tercakup dalam subjek berada di luar perangkat predikat. Dengan kata lain, antara subjek dan predikat tidak terdapat relasi
      Tidak satu pun S adalah P
Tidak seorang pun manusia adalah binatang
1.      3. Sebagian perangkat yang tercakup dalam subjek berada di luar perangkat predikat.





Sebagian S tidaklah P
Sebagain kaca tidaklah bening.




1.   4.    Suatu perangkat yang tercakup dalam subjek sama dengan perangtkat yang terdapat dalam predikat
Semua S adalah semua P
Semua sehat adalah semua tidak sehat



 

Term merupakan kesimpulan yang ditarik berdasarkan premis mayor dan premis minor. Subjek pada kesimpulan itu merupakan term minor. Term menengah menghubungkan term mayor dengan term minor dan tidak boleh terdapat pada kesimpulan. Perlu diketahui, term adalah suatu kata atau kelompok kata yang menempati fungsi subjek (S) atau predikat (P).
Contoh :
Semua tebu manis
Semua tebu adalah term
Manis adalah term
Dalam kalimat Bumi dan planet adalah term.
Þ    Macam-macam Proposisi
Berdasarkan pengertian tentang term, maka proposisi dapat pula dibatasi sebagai pernyataan tentang hubungan antara term-term. Dari kualitasnya hubungan itu mungkin berisi pembenaran (positif), yaitu menyatakan danya hubungan antara term-term; atau bersifat mengingkari (negatif), artinya menyatakan tidak adanya hubungan antara term-term.
            Proposisi dapat di golongkan berdasarkan beberapa kriteria :
1.      Menurut bentuknya, proposisi dapat dibedakan sebagai ptoposisi yang hanya berisi satu pernyataan saja. Sedangkan proposisi majemuk merupakan gabungan antara dua proposisi tunggal atau lebih.
Contoh :
Tunggal     : semua manusia fana.
                    Setiap calon mahasiswa harus mengikuti ujian seleksi.
Majemuk   : semua manusia fana dan pernah lupa
Tidak seorangpun siswa SLA menjadi anggota Senat Guru Besar ITB dan IPB
Proposisi “Semua manusia fana dan pernah lupa” sebenarnya merupakan gabungan dua proposisi tunggal, yaitu “Semua manusia fana” dan “Semua manusia pernah lupa”. Karena kedua proposisi itu positif, maka gabungannya merupakan proposisi majemuk kopulatif sedangkan “Tidak seorangpun siswa SLA menjadi Senat Guru Besar ITB dan IPB” merupakan himpunan dua proposisi tunggal negative, yaitu “Tak seorang pun siswa SLA menjadi anggota Senat Guru Besar IPB”. Gabungan seperti itu merupakan proposisi majemuk rimotif.
2.      Menurut sifat pembenaran atau pengingkaran hubungan antara subjek (S) dan predikat (P), proposisi mungkin merupakan proposisi kategoris atau proposisi kondisional. Jika hubungan itu tanpa syarat, proposisi digolongkan menjadi proposisi kategoris, dan sebaliknya. Jika disertai syarat, proposisi termasuk ke dalam proposisi kondisional.
  Contoh :
Kategoris               : Sebagian manusia hidup makmur
  Kondisional       : Jika mutu makanan ayam diperbaiki, telur yang dihasilkan lebih         bermutu.
Proposisi kondisional dapat dibagi lagi menjadi proposisi kondisional hipotesis dan        proporsi kondisional disjungsif. Proposisi kondisional dan hipotesis akan dibahas lebih lanjut ke dalam subbab pernalaran deduktif.
3.      Berdasarkan kuantitasnya, proposisi dibedakan menjadi proposisi universal dan proposisi khusus (partikular, particular). Pada proposisi universal, predikat membenarkan atau mengingkari sebagian saja.
ungkapan untuk menyatakan proposisi universal antara lain : semua, seluruh, tiap-tiap, setiap kali, masing-masing, selalu, tidak satu pun, tidak pernah, dan tidak seorang pun. Untuk proposisi partikular biasanya dpergunakan kata-kata seperti : sebagian, banyak, kebanyakan, sering, kadang-kadang, dan dalam keadaan tertentu, beberapa.
4.      Selanjutnya menurut kualitas dan kuantitasnya dapat digolongkan-golongkan sebagai berikut:
a.       Proposisi universal positif (affirmative), di dalam logika diberi symbol A
b.      Proposisi universal negative: E
c.       Proposisi partikular positif: I
d.      Proposisi partikular negative: O
Contoh :
A   :           Semua mahasiswa adalah lulusan SMTA.
                  Semua karya ilmiah mempunyai daftar pustaka.
E    :           Tidak satu pun siswa SLA menjadi anggota Senat Guru Besar IPB.
                  Tidak seorang mahasiwasa pun lulusan SMTP.
I     :           Beberapa petani memilki traktor.
                  Sebagain perguruan tinggi dikelola oleh yayasan.
O   :           Sebagian mahasiswa tidak pernah melakukan KKN.
                  Sebagian perguruan tinggi tidak dikelola oleh yayasan.

2.2 Penalaran deduktif
            Pernalaran deduktif bertolak dari sebuah konklusi atau simpulan yang didapat dari satu atau lebih pernyataan yang lebih umum. Simpulan yang diperoleh tidak mungkin lebih umum daripada proposisi tempat menarik simpulan itu disebut premis. Di dalam pernalaran deduktif, berdasarkan atas permis itu ditarik kesimpulan yang sifatnya lebih khusus. Dengan demikian, sebenarnya, penarikan kesimpulan secara deduktif itu secara tersirat sudah tercantum di dalam premisnya. Sifat itu membedakan pernalaran deduktif dari penalaran induktif, tyang kesimpulannya tidak tercantum di dalam premisnya. Dari sifat di atas, dapat dipahami di dalam deduktif suatu kesimpulan akan benar atau sah jika premisnya benar dan cara penarikan kesimpulan sah. Di dalam pernalaran induktif, kita tidak dapat menentukan kebenaran atau kesalahan kesimpulan dengan cara demikian.
            Penarikan simpulan secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan dapat pula dilakukan secara tak langsung.
2.2.1 Menarik Simpulan secara Langsung
     Simpulan (konklusi) secara langsung ditarik dari satu premis. Sebaliknya, konklusi yang ditarik dari dua premis disebut simpulan tak langsung.
Misalnya :
1.      Semua S adalah P. (premis)
Sebagian P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Semua tamatan SMA akan melanjutkan ke universitas. (premis)
Sebagian yang melanjutkan ke universitas adalah tamatan SMA. (simpulan)
2.      Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Tidak satu pun P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Tidak seekor kucing pun adalah kera. (premis)
Tidak seekor kera pun adalah kucing. (simpulan)
3.      Semua S adala P. (Premis)
Tidak satu pun s adalah tak-P. (simpulan)
Contoh:
Semua senjata tajam adalah alat yang berbahaya. (premis)
Tidak satu pun senjata tajam adalah alat yang tidak berbahaya. (simpulan)
4.      Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Semua S adalah tak-P. (simpulan)
Contoh :
Tidak semua sampah adalah sampah organic. (premis)
Semua sampah adalah bukan sampah organic. (simpulan)
5.      Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan)
Tidak satu pun tak-P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Semua gajah adalah berbelalai. (premis)
Tidak satu pun gajah adalah takberbelalai. (simpulan)
Tidak satu pun yang takberbelalai adalah gajah. (simpulan)
2.2.2 Menarik Simpulan secara Tidak Langsung
     Pernalaran deduksi yang berupa penarikan simpulan secara tidak langsung memerlukan dua premis sebagai data. Dari dua premis ini akan dihasilkan sebuah simpulan. Premis yang pertama adalah premis yang bersifat umum dan premis yang kedua adalah premis yang bersifat khusus.
     Untuk menarik simpulan secara tidak langsung ini, kita memerlukan suatu premis (pernyataan dasar) yang bersifat pengetahuan yang semua orang tahu, umpamanya setiap manusia akan mati, semua ikan berdarah dingin, semua sarjana adalah lulusan perguruan tinggi, atau semua pohon kelapa berakar serabut.
          Beberapa jenis pernalaran deduksi secara garis besar dibagi menjadi 2 yaitu silogisme dan entimen.
1.      Silogisme
Silogisme merupakan suatu cara pernalaran yang formal. Pernalaran dalam bentuk ini jarang ditemu,kan/dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kita lebih sering mengikuti polanya saja, meskipun kadang-kadang secara tidak sadar. Misalnya ucapan “Ia dihukum karena melanggar peraturan “X”, sebenarnya dapat kita kembalikan ke dalam bentuk formal berikut:
·         Barang siapa melanggar peraturan “X” harus dihukum
·         Ia melanggar peraturan “X”
·         Ia harus dihukum.
          Bentuk seperti itulah yang disebut silogisme. Kalimat pertama (premis mayor) dan kalimat kedua (premis minor) merupakan pernyataan dasar untuk menrik kesimpulan (kalimat ketiga).
          Pada contoh, kita lihat bahwa ungkapan “melanggar …” pada premis (mayor) diulangi dalam (premis minor). Demikian pula ungkapan “harus di hukum” di dalam kesimpulan. Hal itu terjadi pada bentuk silogisme yang standar seperti itu. Misalnya :
Semua yang dihukum itu karena melanggar peraturan
Kita selalu mematuhi peraturan
Kita tidak perlu cemas bahwa kita akan dihukum
a.       Silogime kategorial
Yang dimaksud dengan silogisme kategorial adalah silogime yang terjadi dari tiga proposisi. Dua proposisi merupakan premis dan satu proposisi merupakan simpulan. Premis yang bersifat umum  disebut premis mayor dan premis yang bersifat khusus disebut premis minor. Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term minor dan predikat simpulan disebut term mayor.
Contoh:
Semua manusia bijaksana.
Semua polisi adalah manusia.
Jadi, semua polisi bijaksana.
Untuk menghasilkan simpulan harus ada term penengah sebagai penghubung antara premis mayor dan premis minor. Term penengah pada silogisme di atas adalah manusia. Term penengah hanya terdapat pada premis, tidak terdapat pada simpulan. Kalau term penengah tidak ada, simpulan tidak dapat diambil.
Contoh:
Semua manusia bijaksana
Semua kera bukan manusia
Jadi, (tidak ada simpulan)
Aturan dalam silogisme kategorial adalah sebagai berikut.
       Selain itu ada beberapa pembatasan yang perlu diketahui sehubngan dengan penalaran dalam bentuk silogisme:
Ø  Di dalam silogisme hanya mungkin terdapat 3 (tiga) term.
Contoh :
       Semua manusia berakal budi
       Semua mahasiswa adalah manusia
       Semua mahasiwa berakal budi
Ø  Term tengah tidak boleh terdapat di dalam kesimpulan.
Ø  Dari dua premis ingkar (negative, menggunakan kata “tidak” atau “bukan”) tidak dapat ditarik kesimpulan.
Ø  Kalau keduanya premisnya positif (tidak ingkar), kesimpulannya harus positif.
Ø  Term-term yang mendukung proposisi harus jelas, tidak pengertian ganda atau menimbulkan keraguan.
Misalnya :
My       :           semua buku mempunyai halaman
Mn       :           Ruas mempunyai buku
K         :           Ruas mempunyai halaman
Ø  Dari premis mayor partikular dan premis minor negative tidak dapat ditarik kesimpulan.
Ø  Premis mayor dalam silogisme mungkin berasal dari teori atau diperoleh melalui penelitian ilmiah yang panjang prosesnya. Kebanrana dan kesalahan kesimpulan yang ditarik dari premis yang demikian lebih “mudah” diuji. Tetapi dalam kenyataannya premis mayor kerap kali bersumber pada pendapat umum, kebiasaan, kepercayaan, bahkan, takhayul, kita harus berhati-hati dalam hal terakhir.
b.      Silogisme Hipotesis
Silogisme hipotesis adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi kondisional hipotesis. Kalau premisnya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Kalau premis minornya menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen.
            Silogisme hipotesis terdiri atas dua bagian, yaitu anteseden dan konsekuen. Anteseden adalah bagian yang berisi syarat dan konsekuen berisi akibat. Menurut logika tardisonal anteseden selalu mendahului konsekuen.
     Contoh :
     Kalau metodenya diubah (anteseden) maka hasilnya akan berebeda (konsekuen).
c.       Silogisme alternative
            Silogisme alternative adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternative. Kalu premis minornya membenarkan salah satu alternative, simpulannya akan menolak alternative yang lain.
Contoh :
     Pelakunya seorang bekas pelaut atau bekas anggota gerombolan.
     Kita akan menlanjutkan diskusi ini atau bubar saja.
2.      Entimen
            Pada dasarnya silogisme jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun dalam lisan. Bentuk yang biasa ditemukan dan dipakai ialah bentuk entimen. Entimen ini pada dasarnya adalah silogisme. Tetapi, di dalam entimen salah satu premisnya dihilangkan/tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.
Contoh:
Semua pelajar adalah orang yang berilmu
Nina adalah seorang pelajar
Jaadi, Nina adalah orang yang berilmu.
2.3 Penalaran induktif
Penalaran induktif adalah proses penalaran untk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus, prosesnya disebut induksi. Dengan kata lain, simpulan yang diperoleh tidak lebih khusus daripada pernyataan (premis). Penalaran induktif mungkin merupakan generalisasi, analogi, atau hubungan kausal.
2.3.1 Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang mengandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum. Suatu genralisasi mencakup cirri-ciri esensial atau yang menonjol, bukan rician. Di dalam pengembangan karangan, genralisasi perlu ditunjang atau dibuktikan dengan fakta-fakta, contoh-contoh, data stastistik, dan sebagainya yang merupaka spesifikasi atau cirri khusus senbagai penjelasan lebih lanjut.
Contoh :
Dari hasil penelitian Dr. Judith Rodin disimpulkan bahwa gula yang terdapat di dalam buah-buahan yang disebut fruktosa dapat menghilangkan rasa lapar., sedangkan glukosa yang bisasnya terdapat dalam kue-kue dan permen menambah rasa lapar. Misalnya, ketika tapi hanya sebentar saja karena energinya segera hilang. Hal ini disebabkan oleh pancreas yang secara cepat mengeluarkan insulin ke dalam aliran darah untuk mengatasi naiknya kadar gula yang cepat tadi. Segera setelah itu kadar gula darah anda akan menurun ke bawah normal. Maka cepatlah energy tadi hilang dan anda akan merasa lebih lapar daripada sebelum sarapan.
(Dikutip dari bola dengan beberapa perubahan).
Pada contoh diatas bagian yang dicetak miring merupakan generalisasi yang dikembangan oleh Judith Rodin berdasarkan hasil penelitiannya. Generalisasi itu selanjutnya dijelaskan dengan contoh yang dikemukakan dalam kalimat-kalimat berikutnya.
Pernyataan yang merupakan generalisasi biasanya menggunakan ungkapan-ungkpan :
Biasanya, pada umumnya, sebagian besar, semua, setiap, tidak pernah, selalu, secara keseluruhan, pada galibnya, dan sebagainya.
Selanjutnya dalam kalimat yang merupakan penunjang generalisasi biasanya digunakan ungkapan-ungkapan:
Misalnya, sebagai contoh, sebagai ilustrasi, untuk menjelaskan hal itu, perlu dijelaskan, sebagai berikut, buktinya, menurut data statistic, dan sebagainya.
Perlu diingat selalu bahwa bukti-bukti atau rincian penunjang harus relevan dengan generalisasi yang dikemukakan. Suatu paragraph yang mencantumkan penunjang yang tidak relevan dipandang tidak logis.
Generalisasi mungkin mengemukakan fakta (disebut generalisasi faktual) atau pendapat (opini). Generalisasi factual lebih mudah diyakini oleh pembaca daripada generalisasi yang berupa pendapat tau penilaian (value judgement). Fakta mudah dibuktikan, mudah diuji kebenarannya, sedangakan pendapat atau penilaian sulit dibuktikan dan diuji. Perhatikan pernyataan-pernyataan berikut :
jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jika dipanaskan, emas memuai.
Jadi, jika dipanaskan, logam memuai.
Sahih atau tidak sahihnya simpulan dari generalisasi iru dapat dapat dilihat dari hal-hal yang berikut :
a.       Data itu harus memadai jumlahnya. Makin banyak data yang dipaparkan, makin sahih simpulan yang diperoleh.
b.      Data itu harus mewakili keseluruhan. Dari data yang sama itu akan dihasilkan simpulan yang sahih.
c.       Penegcualian perlu diperhitungkan karena data-data yang mempunyai sifat khusus tidak dapat dijadikan data.
2.3.2 Analogi
Kita dapat membandingkan sesuatu dengan lainnya berdasarkan atas persamaan yang terdapat di antara keduanya. Kita mungkin menyebut sutau bau yang sedap sebagai “bau bunga melati atau bau 4711”. Perbandingan seperti itu dimaksudkan sebagai cara untuk menjelaskan sesuatu yang baru berdasarkan persamaannya dengan sesuatu yang telah dikenal. Hasilnya tidak memberikan kesimpulan atau pengetahuan yang baru. Perbandingan demikian disebut analogi penjelas (deklaratif).
Analogi yang dimaksudkan di sini bukan anlogi penjelas seperti di atas, melainkan analogi induktif. Artinya, suatu proses penalaran untuk menarik kesimpulan/refensi tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan kebenaran suatu gejala khusus lain yang memilki sifat-sifat esensial penting yang bersamaan. Dengan demikian, untuk mengemukakan persamaan yang dipakai sebagai dasar kesimpulan benar-benar merupakan cirri-ciri esensial penting yang berhubungan erat dengan kesimpulan yang dikemukakan. Sebagai contoh, misalnya kesimpulan beberapa ilmuwan yang mengatakan bahwa anak kera dapat diberi makan seperti anak manusia berdasarkan persamaan yang terdapat diantara system pencernaan anak kera dan anak manusia. Kesimpulan itu merupakan analogi induktif yang sah, karena yang dipakai sebagai dasar kesimpulan (system pencernaan) merupakan cirri esensial yang berhubungan erat dengan kesim[ulan (cara memberi makan).
Contoh :
Nina adalah lulusan akademi A
Nina dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Ali adalah lulusan akademi A.
Oleh sebab itu, Ali dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Tujuan penalaran secara analogi adalah sebagai berikut :
1.      Ananlogi dilakukan untuk meramalkan kesamaan.
2.      Analogi digunakan untuk menyingkapkan kekeliruan.
3.      Analogi digunakan untuk menyusun klasifikasi.
2.3.3 Hubungan Kausal
Hubungan kausal adalah penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan. Misalnya, tombol ditekan, akibatnya bel berbunyi. Dalam kehidupan kita sehari-hari, hubungan kausal ini sering kita temukan. Hujan turun dan jalan-jalan becek. Ia kena kanker darah dan meninggal dunia. Dalam kaitannya dengan hubungan kausal ini, tiga hubungan antarmasalah, yaitu sebagai berikut:
a.       Sebab-Akibat
Sebab-akibat berpola A menyebabkan B. di samping itu, hubungan ini dapat pula berpola A menyebabkan B, C, D, dan seterusnya. Jadi, efek dari suatu peristiwa yang dianggap penyebab kadang-kadang lebih dari satu.
Dalam kaitannya dengan hubungan kausal ini, diperlukan kemampuan penalaran sesorang untuk mendapatkan simpulan penalaran. Hal ini akan terlihat pada suatu penyebab yang tidak jelas terhadap sebuah akibat yang nyata. Kalau kita melihat sebiji buah mangga jatuh dari batangnya, kita akan memperkirakabn beberapa kemungkinan penyebabnya. Mungkin mangga ditimpa hujan, mungkin dihempas angin, dan mungkin pula dilempari oleh anak-anak. Pastilah salah satu kemungkinan itu yang menjadi penyebabnya.
Andaikata angin tiba-tiba bertiup (A), dan hujan yang tiba-tiba turun (B), ternyata tidak sebuah mangga pun yang jatuh (E), tentu kita dapat menyimpulkan bahwa jatuhnya buah mangga itu disebabkan oleh lemparan anak-anak (C).
Pola seperti itu dapat kita lihat pada rancangan berikut.
Angin                           hujan                           lemparan                                  mangga jatuh
(A)                                (B)                                  (C)                                             (E)
Angin,                         hujan                                                                       mangga tidak jatuh
(A)                                                               (B)                                                                                    (E)
Oleh sebab itu, lemparan anak menyebabkan mangga jatuh.
                              (C)                                   (E)
Pola seperti itu sesuai dengan metode agreement yang berbunyi sebagai berikut. Jika dua kasus atau lebih dalam suatu gejala mempunyai satu dan hanya satu kondisi yang dapat mengakibatkan sesuatu, kondisi itu dapat diterima sebagai penyebab sesuatu tersebut.
The, gula, garam menyebabkan kedatangan semut
(P)    (Q)    (R)                           (Y)
Gula, lada, bawang menyebabkan kedatangan semut
(Q)     (S)    (U)                            (Y)
Jadi, gula menyebabkan kedatangan semut.
         (Q)                        (Y)
b.      Akibat-Sebab
        Penalaran dari akibat ke sebab dimulai dari suatu akibat yang diketahui. Berdasarkan akibat tersebut dipikirkan apa yang mungkin menjadi penyebabnya. Penalaran dari akibat ke sebab dipergunakan dalam penelitian expose facto, misalnya untuk menentukan penyebab kematian/kecelakaan, dan lain-lain. Cerita-cerita detektif dan proses peradilan merupakan contoh lain yang jelas untuk penalaran akibat ke sebab.
        Akibat-sebab ini dapat kita lihat juga pada peristiwa seseorang yang pergi ke dokter. Ke dokter merupakan akibat dan sakit merupakan sebab, jadi mirip dengan entimen. Akan tetapi, dalam penalaran jenis akibat-sebab ini, peristiwa sebab merupakan simpulan.
c.       Akibat-Akibat
            Akibat-akibat adalah suatu pernalaran yang menyiratkan penyebabnya. Peristiwa “akibat” langsung disimpulkan pada suatu “akibat” yang lain. Contohnya adalah sebagai berikut.
            Ketika pulang dari pasar, Ibu Sonya melihat tanah di halamannya becek. Ibu langsung menyimpulkan bahwa kain jemuran di belakng rumahnya pasti basah.
            Dalam kasus itu penyebabnya tidak ditampilkan, yaitu hari hujan. Pola itu dapat dilihat seperti berikut ini.
Hujan                menyebabkan tanah becek
(A)                                   (B)
Hujan                menyebabkan kain jemuran basah
(A)                                    (C)
Dalam proses pernalaran, “akibat-akibat”, peristiwa tanah becek (B) merupakan data, dan peristiwa kain jemuran basah (C) merupakan simpulan.
Jadi, karena tanah becek, pasti kain jemuran basah
                         (B)                     (C)

2.4  Salah Nalar
Gagasan, pikiran, kepercayaan, atau simpulan yang salah, keliru, atau cacat disebut salah nalar. Salah nalar ini disebabkan oleh ketidaktepatan orang mengikuti tata cara pikirannya. Apabila kita perhatikan beberapa kalimat dalam bahasa Indonesia secara cermat, kadang-kadang kita temukan beberapa pernyataan atau premis tidak masuk akal. Kalimat-kalimat yang seperti itu disebut kalimat dari hasil salah nalar. kesalahan yang kita persoalkan di sini adalah kesalahan yang berhubungan dengan proses pernalaram yang kita sebut salah nalar. pembahasan ini akan mencakup dua jenis kesalahan menurut penyebab utamanya, yaitu kesalahan karena bahasa yang merupakan kesalahan informal  dan kesalahan karena materi dan proses pernalarannya yang merupakan kesalahan formal.
2.3.1        Kesalahan Informal
Sebagai sarana terutama pernalaran ilmiah bahasa mengandung banyak kelemahan. Kata-kata kerap kali kabur, tidak tegas maknanya, sehingga dapat diartikan bermacam-macam. Demikian juga kalimat sering kali dapat ditafsirkan dengan berbagai cara. Perhatikanlah kalimat-kalimat berikut:
(1). Kesadaran bela Negara merupakan perwujudan rasa cinta kepada tanah air.
(2). Cinta seorang ibu kepada anaknya tak dapat diukur dengan materi.
(3). Anak dosen yang cantik itu adalah mahasiswa UT.
(4). Mugi berkata pada teman Sita bahwa ia harus berangkat sekarang juga.
Kesalahan informal biasanya dikelompokan sebagai relevansi. Kesalahan ini terjadi apabila premis-premis tidak mempunyai hubungan logis dengan kesimpulan. Yang termasuk ke dalam jenis kesalahan ini ialah:
a.       Argumentum ad Hominem
Secara harfiah kesalahan itu berarti “argumentasi ditujukan kepada diri orang”. Kesalan itu terjadi bila seseorang mengambil keputusan atau kesimpulan tidak berdasarkan pernalaran melainkan untuk kepentingan dirinya, dengan mengemukakan alasan yang tidak logis sebenarnya. Misalnya, orang menolak pemerataan dengan alasan bahwa pemerataan itu merupakan yang dituntut orang komunis, sedangkan komunisme adalah aliran yang dilarang di sini (Alasan yang sebenarnya ialah karena pemerataan itu merugikan dirinya).
b.      Argumentum ad baculum
            Baculum berarti “tongkat” yang dimaksud di sini ialah suatu kesalahan yang terjadi apabila suatu keputusan diterima atau ditolak karena adanya ancaman hukuman atau tindak kekerasan: misalnya jika seseorang mengakui kesalahan yang diruduhkan kepadanya (yang sebenarnya tidak dilakukan) karena ia diancam dengan kekerasan.
c.      Argumentum ad Verucundiam atau Argumentum Adictoritatis
Kesalahan ini terjadi bila seseorang menerima pendapat atau keputusan bukan dengan alasan pernalaran melainkan karena yang menyatakan pendapat atau itu adalah yang memiliki kekuasaan.
d.      Argumentum ad populum
Arti harfiahnya ialah “argumnetasi ditujukan kepada rakyat”. Argumentasi yang dikemukakan tidak mementingkan kelogisan; yang penting agar orang banyak tergugah. Hal ini sering dilakukan dalam propaganda.
e.      Argumentum ad Misericordiam
Argumentasi yang dikemukakan untuk membangkitkan belas kasihan. Biasnya argumentasi semacam ini dikemukakan bila seseorang ingin agar kesalahannya dimaafkan. Misalnya seorang siswa yang mendapat nilai buruk mengatakan bahwa ia tidak mempunyai cukup waktu untuk belajar karena membantu orang tua mencari nafkah.
f.        Kesalahan Non-Causa Pro-Causa
Kesalahan ini terjadi jika sesorang mengemukakan suatu sebab yang sebenarnya bukan merupakan sebab atau bukan sebab yang lengkap. Contohnya seorang laki-laki dinyatakan meninggal akibat jatuh dari tangga. Akan tetapi, pemeriksaan dokter menyatakan bahwa orang itu meninggal bukan karena jatuh. Ia mendapat serangan jantung ketika sedang menuruni tangga.
g.      Kesalahan Aksidensi
Yang dimaksud dengan kesalahan aksidensi adalah kesalahan terjadi akibat penerapan prinsip umum terhadap keadaan yang bersifat aksidental, yaitu suatu keadaan atau kondisi kebetulan, yang tidak seharusnya, atau mutlak yang tidak cocok. Misalnya, susu adalah minuman sehat. Tetapi, jika seorang ibu yang memberikan susu kepada anaknya yang alergi terhadap lemak hewani karena ia menganggap bahwa susu adalah minuman yang menyehatkan ia telah melakukan kesalahan aksidensi. Keadaam umum bahwa susu itu sehat tidak cocok dengan kondisi aksidensi bahwa anak alergi terhadap lemak hewani.
h.      Petitio Principii
Kesalahan ini terjadi jika argument yang diberikan telah tercantum di dalam premisnya. Misalnya kalimat “Ular itu mengandung racun karena ia berbisa; kedua hal itu sama saja, karena tidak berbeda” dalah contoh-contoh petition principii. Tentu saja kesalahan itu akan mudah dikenali jika pernyataan dan argumennya berdekatan atau sama pernyataannya. Tetapi kedua hal itu mungkin dipisahkan oleh puluhan bahkan ratusan halaman suatu buku. Misalnya saja pada awal tulisannya seseorang pengarang mengemukakakn pola-pola kalimat bahasa Melayu Riau sama dengan pola kalimat bahasa Malaysia. Pada akhirnya ia menyimpulkan bahwa pola kalimat bahasa Malaysia tidak memperlihatkan hal-hal yang berbeda dengan pola kalimat bahsa melayu.
Kadang-kadang petitito principii ini berwujud sebagai argumentasi berlingkar; A disebabkan B, B disebabkan C, C disebabkan D, D dan D disebabkan A.
i.  Kesalahan Komposisi dan Divisi
Kesalahan kompisisi terjadi jika kita menerapkan predikat individu kepada kelompoknya. Misalnya Oni adalah mahasiswa, ia suka berdansa. Jadi mahasiwa suka berdansa. Sebaliknya jika predikat yang benar bagi kelompok kemudian dikenakan kepada individu anggotanya, maka akan terjadi kesalahan divisi. Misanya saja pada mobil yang besar, baut-baut yang digunakan besar-besar juga. Jika sebuah sekolah dinilai baik maka setiap gurunya dinilai baik.
j. Kesalahan karena Pertanyaan yang kompleks
Pertanyaan yang kompleks di sini bukan hanya yang dinyatakan dengan kalimat kompleks saja, melainkan juga dapat menimbulkan banyak jawaban. Misalnya pertanyaan, “Apakah benda itu?” akan menghasilkan berbagai jawaban misalnya sebagai istilah ekonomi, fisika, hukum dan sebagainya.
k.      Non Secuitur (kesalahan konsekuen)
Kesalahan ini terjadi jika dalam suatu silogisme hipotesis terjadi pertukaran antara anteden dan konsekuen. Misalnya, “Jika anda seorang pencuri, maka anda bekerja pada malam hari”, disamakan dengan “jika anda bekerja pada malam hari,anda seorang pencuri”.
l.  Ingnoratio elenchi
Kesalahan ini sama/ sejenis dengan argumentum ad hominem, ad Verundiam,ad Baculum dan ad populum yaitu tidak ada relevansi antara premis dan kesimpulannya. Tetapi, Ignoratio elenchi tidak disebabkan oleh bahasa, melainkan karena isi argumentasinya tidak relevan dengan pernyataannya. Misalnya seorang ketua RT mengemukakan kepada warganya bahwa RT perlu memungut iuran untuk petugas kebersihan. Untuk mendukung gagasan itu ia menjelaskan peranan kebersihan dalam menciptakan kesehatan dan keindahan lingkungan; padahal yang harus dibuktikan ialah bahwa iuran itu harus dibayarkan, bukan segala tentang kebersihan.
2.3.2 Kesalahan Formal
Kesalahan ini berhubungan erat dengan materi dan proses penarikan  kesimpulan baik deduktif maupun induktif.
a.       Kesalahan Induktif
Kesalahan induktif terjadi sehubungan dengan proses induktif. Kesalahan ini mungkin merupakan kesalahan generalisasi, hubungan sebab akibat, dan analogi.
·         Generalisasi Terlalu Luas
Contoh:
Wanita kurang mampu dalam matematika dibandingkan dengan pria. Kesimpulan itu ditarik dari pengamatan sebagai berikut. Di dalam kelas yang terdiri dari dua puluh lima wanita dan dua puluh pria, ternyata lima nilai tertinggi dicapai oleh mahasiwa pria sedangkan lima nilai terendah diperoleh oleh mahasiwa wanita.
Apakah kelas yang diteliti cukup mewakili pria dan wanita secara umum?
Apakah lima nilai terendah itu saja cukup kuat untuk menarik kesimpulan bahwa wanita kurang dibandingkan pria? Bahkan untuk menarik kesimpulan tentang kemampuan kelas itu saja, data itu tidak memadai. Barangkali masih lebih baik jika kesimpulan diambil berdasarkan perbandingan nilai rata-rata mereka.
·         Hubungan sebab akibat yang Tidak Memadai
Daslam pemakaian bahasa kerap kali dijumpai hubungan sebab akibat yang tidak tepatatau salah. Hal ini mungkin terjadi karena suatu akibat dihubungkan dengan penyebab berdasarkan kepercayaan atau takhayul atau karena penulis atau pembaca menganggap suatu kontributori sebagai utamanya.
Contoh:
a.       Saya tidak dapat berenang. Hamper semua anggota keluarga saya tidak dapat berenang.
b.      Saya tidak lulus karena dosen saya tidak suka pada saya.
c.       Sebagian besar siswa mendapat nilai buruk karena pada waktu ulangan ada kucing hitam yang melintas di halaman.
·         Kesalahan Analogi
Kesalahan berikutnya ialah kesalahan analogi.kesalahan ini terjadi bila dasar analogi induktif yang dipakai tidak merupakan cirri esensial kesimpulansarjana biologi berdasarkan persamaan system pencernaannya, merupakan contoh kesalahan anlogi. Dasar analoginya (system pencernaan) tidak merpakan cirri esensial dari kesimpulan (dapat didik menjadi sarjana).
Contoh lain:
Toni bersekolah di SMA 1. Ia pasti akan menjadi tokoh politik terkenal berasal dari sekolah itu.
b.      Kesalahan Deduktif
1.       Dalam cara berpikir deduktif kesalahan yang biasa terjadi ialah kesalahan premis mayor yang tidak dibatasi.
Contoh:
o   Semua pelaku kejahatan adalah korban rumah tangga yang berantakan
o   Kalau hakin masuk desa, di desa tidak ada lagi ketidakadilan.
Kalau bentuk entimen di atas dikembalikan ke dalam bentuk silogisme, kita akan melihat bahwa kesalahannya terletak pada premis mayor yang tidak dibatasi, yaitu:
My : Penyebab kejahatan ialah rumah tangga berantakan.
Mn : Hakim memberantas ketidakadilan.
2.       Kesalahan deduktif lainnya ialah kesalahan term ke empat. Dalam hal ini term tengah dalam premis minor tidak merupakan bagian dari term mayor pada premis mayor atau memang tidak ada hubungan antara kedua pernyataam.
My : semua mahasiswa FKIP akan menjadi guru.
Mn : Dani siswa SMP
Dari kedua premis itu tidak dapat ditarik kesimpulan apa-apa. Pada silogisme itu terdapat empat term. Dengan perkataan lain, tidak ada term tengah yang menghubungkan  kedua premis sehingga keduanya tidak berhubungan.
3.       Kerap kali pula terjadi kesalahan berupa kesimpulan terlau luas/kesimpulan lebih luas daripada premisnya. Premis mayor partikular dan kesimpulan merupakan universal.
Contoh:
My : Sebagian orang asia hidup makmur.
Mn : Orang Indonesia adalah orang asia
K : Orang Indonesia hidup makmur.
Dari premis mayor partikular positif dan premis minor
Universal positif tidak dapat ditarik kesimpulan.
4.       Kesalahan deduktif berikut ialah kesalahan kesimpulan dari Premis-premis negative.
Contoh:
My : semua pohon kelapa tidak bercabang.
Mn : tiang listrik tidak bercabang.
K : tiang listrik adalah pohon kelapa.

3.       Simpulan
Penalaran deduktif dan penalaran induktif adalah dua jenis penalaran yang mempunyai sifat bertolak belakang. Dimana Penalaran deduktif bertolak dari sebuah konklusi atau simpulan yang didapat dari satu atau lebih pernyataan yang umum. Sedangkan penalaran induktif penalaran yang bertolak dari pernyataan-pernytaan yang khusus dan menghasilkan simpulan yang umum.

4.       Daftar Pustaka
·           Arifin,Zaenal,E dan Tasai,Amran,S.1992.Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan tinggi. Akademika Presisindo.
·           Wahyu. R.N., Tri 2006. Bahasa Indonesia. Universitas Gunadarma, Jakarta.
·           Purwanto,Djoko. 2006. Komunikasi Bisnis. Edisi ketiga. Jakarta: Penerbit Erlangga.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS