Pentingnya Motivasi Masyarakat dalam Penentuan Produk

Pendahuluan
Kebutuhan manusia akan barang dan jasa untuk pemenuhan sehari-hari sangat didorong oleh motivasi akan pemenuhan tersebut. Motivasi yang ada dalam diri manusia beraneka ragam yang bersumber pada kebutuhan lahiriah dan jasmani yang diberikan barang kepada manusia. Tetapi, kebanyakan dari kebutuhan-kebuthan yang ada tidak cukup kuat untuk memotivasi seseorang untuk bertindak pada suatu saat tertentu. Suatu kebuthan akan berubah menjadi motif apabila kebutuhan itu telah mencapai tingkat tertentu. Motif adalah suatu kebutuhan yang cukup menekan seseorang untuk mengejar kepuasan. Motivasi meliputi factor kebutuhan biologis dan emosional yang hanya dapat diduga dari pengamatan tingkah laku manusia.
Perilaku yang termotivasi diprakasai oleh pengaktifan kebutuhan atau pengenalan kebutuhan. Kebutuhan atau motif diaktifkan ketika ada ketidakcocokan yang memadai antara keadaan actual dengan keadaan yang diinginkan atau yang disukai karena ketidakcocokan ini meningkat, hasilnya adalah pengaktifan suatu kondisi kegairahan yang diacu sebagai dorongan. Semakin kuat dorongan tersebut, maka semakin besar pula urgensi respn yang dirasakan.
Pembahasan
Motivasi atau motif atau kebutuhan atau desakan atau keinginan atau dorongan adalah kata yang sering digunakan untuk menyevut kata motivasi. Adapun sebetulnya asal kata motivasi adalah movere dari bahasa latin yang sama dengan to move dalam bahasa inggris yang berarti menggerakkan atau mendorong. Berdasarkan asal kata tersebut ada yang mendefinisikan motivasi sebagai
a. Keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan.
b. Motivasi merupakan semua kekuatan yang ada dalam diri seseorang yang member daya, member daya, member arah dan memelihara tingkah laku.
Pada dasarnya motivasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu motivasi internal dan motivasi eksternal.
a. Motivasi Internal
Adalah motivasi yabg berasal dari dalam diri seseorang. Keperluan dan keinginan yang ada dalam diri seseorang akan menimbulkan motivasi internalnya. Kekuatan ini akan mempengaruhi pikirannya yang selanjutnya akan mengarahkan perilaku orang tersebut. Penggolongan motivasi internal memang belum disepakati bersama oleh para ahli tetapi lazimnya motivasi internal dapat dikelompokkan sebagai berikut :
Kebutuhan konsumen dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
• Fisiologis. Dasar-dasar kelangsungan hidup, termasuk rasa lapar, haus dan kebutuhan hidup lainnya.
• Keamanan. Berkenaan dengan kelangsungan hidup fisik dan keamanan.
• Afiliasi dan pemilikan. Kebuthan untuk diterima oleh orang lain, menjadi orang penting bagi mereka.
• Prestasi. Keinginan dasar akan keberhasilan dalam memenuhi tujuan pribadi.
• Kekuasaan. Keinginan untuk mendapat kendali atas nasib sendiri dan juga nasib orang lain.
• Ekspresi diri. Kebutuhan mengembangkan kebebasan dalam ekspresi diri dipandang penting oleh orang lain.
• Urutan dan pengertian. Keinginan untuk mencapai aktualisasi diri melalui pengetahuan, pengertian, sistematisasi dan pembangunan system lain.
• Pencarian variasi. Pemeliharaan tingkat kegairahan fisiologis dan stimulasi yang dipilih kerap diekspresikan sebagai pencarian variasi .
• Atribusi sebab-akibat. Estimasi atau atribusi sebab-akibat dari kejadian dan tindakan.
b. Motivasi Eksternal
Memang motivasi eksternal tidak dapat dilepaskan dari motivasi internal. Teori motivasi eksternal juga menjelaskan kekuatan-kekuatan yang ada di dalam individu yang di pengaruhi oleh faktor intern. Motivasi eksternal biasanya dipahami sebagai usaha untuk mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Misalnya dalam organisasi bagaimana bawahan memimpin anak buahnya/bawahan atau anggota.
Proses Motivasi
1. Tujuan. Perusahaan harus bisa menentukan terlebih dahulu tujuan yang ingin dicapai, baru kemudian konsumen dimotivasi kearah itu.
2. Mengetahui kepentingan. Perusahaan harus bisa mengetahui keinginan konsumen tidak hanya dilihat dari kepentingan perusahaan semata.
3. Komunikasi efektif. Melakukan komunikasi dengan baik terhadap konsumen agar konsumen dapat mengetahui apa yang harus mereka lakukan dan apa yang bisa mereka dapatkan.
4. Integrasi tujuan. Proses motivasi perlu untuk menyatukan tujuan perusahaan dan tujuan kepentingan konsumen. Tujuan perusahaan adalah untuk mencari laba serta perluasan pasar. Tujuan individu konsumen adalah pemenuhan kebutuhan dan kepuasan kedua kepentingan di atas harus disatukan dan untuk itu penting adanya penyesuaian motivasi.
5. Fasilitas. Perusahaan memberikan fasilitas agar konsumen mudah mendapatkan barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan.

Tujuan Motivasi Konsumen :
a. Meningkatkan Kepuasan
b. Mempertahankan loyalitas
c. Efisiensi
d. Efektivitas
e. Menciptakan suatu hubungan yang harmonis antara produsen atau penjual dengan pembeli atau konsumen.
Motivasi konsumen yang dilakukan oleh produsen sangat erat sekali berhubungan dengan kepuasan konsumen. Untuk itu perusahaan selalu berusaha untuk membangun kepuasab konsumen dengan berbagai cara.
Kebutuhan dan tujuan dalam konteks perilaku konsumen mempunyai peranan penting karena motivasi timbul karena adanya kebutuhan yang belum terpenuhi dan tujuan yang ingin dicapai. Kebutuhan menunjukkan kekurangan yang dialami seseorang pada sutau waktu tertentu. Kebutuhan dipandang sebagai penggerak atau pembangkit perilaku. Artinya, jika kebutuhan akibat kekurangan itu muncul, maka individu lebih peka terhadap usaha motivasi para konsumen.
Kebutuhan konsumen dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
c. Fisiologis. Dasar-dasar kelangsungan hidup, termasuk rasa lapar, haus dan kebutuhan hidup lainnya.
d. Keamanan. Berkenaan dengan kelangsungan hidup fisik dan keamanan.
e. Afiliasi dan pemilikan. Kebuthan untuk diterima oleh orang lain, menjadi orang penting bagi mereka.
f. Prestasi. Keinginan dasar akan keberhasilan dalam memenuhi tujuan pribadi.
g. Kekuasaan. Keinginan untuk mendapat kendali atas nasib sendiri dan juga nasib orang lain.
h. Ekspresi diri. Kebutuhan mengembangkan kebebasan dalam ekspresi diri dipandang penting oleh orang lain.
i. Urutan dan pengertian. Keinginan untuk mencapai aktualisasi diri melalui pengetahuan, pengertian, sistematisasi dan pembangunan system lain.
j. Pencarian variasi. Pemeliharaan tingkat kegairahan fisiologis dan stimulasi yang dipilih kerap diekspresikan sebagai pencarian variasi .
k. Atribusi sebab-akibat. Estimasi atau atribusi sebab-akibat dari kejadian dan tindakan.

Model-model Motivasi Menurut Para Ahli
Berbagai model yang menguraikan bagaimana motivasi terjadi telah dikembangkan. Tiga dari model tersebut adalah: (1) model kebutuhan-tujuan, (2) model ekspektasi Vroom, dan (3) model Porter-Lawler.
Model Motivasi Kebutuhan-Tujuan
Model motivasi kebutuhan dan tujuan dimulai dengan perasaan kebutuhan individu. Kebutuhan ini kemudian ditransformasi menjadi perilaku yang dirahkan untuk mendukung pelaksanaan perilkau tujuan. Tujuan dari perilkau adalah untuk mengurangi kebutuhan yang dirasakan. Secara teoritis, perilaku mendukung tujuan dan perilkau tujuan berkelanjutan sampai kebutuhan yang dirasakan telah sangat berkurang.
Contoh, seseorang mungkin merasakan kelaparan. Kebutuhan ini ditransformasikan pertama kedalam perilkau yang diarahkan utnuk mendukung pelaksanaan perilaku tujuan untuk makan. Contoh dari perilaku yang mendukung termasuk juga aktivitas-aktuvutas seperti membeli, memasak, dan menyajikan makanan untuk dimakan. Perilaku pendukung tujuan tersebut dan perilaku tujuan makan itu sendiri akan berkelanjutan sampai individu merasakan kebutuhan lapar menjadi berkurang. Sekali individu mengalami kebutuhan lapar kembali, daur tersebut akan mulai kembali.
Model Ekspektasi Motivasi Vroom
Pada kenyataannya, proses motivasi adalah situasi yang lebih rumit dibandingkan yang digambarkan oleh model motivasi kebutuhan tujuan. Model ekspektasi Vroom mengatasi beberapa kerumitan tambahan. Seperti halnya dengan model kebutuhan-tujuan, model ekspektasi Vroom didasarkan pada premis bahwa kebutuhan yang dirasakan menyebabkan perilaku kemanusiaan. Akan tetapi, disamping itu model ekspektasi Vroom mengungkapkan isu kekuatan motivasi. Kekuatan motivasi adalah tingkatan keinginan individu untuk menjalankan suatu perilaku. Ketika keinginan meningkat atau menurun, kekuatan motivasi dikatakan berfluktuasi.
Menurut model motivasi Vroom ini kekuatan motivasi ditentukan oleh (1) nilai dari hasil menjalankan suatu perilaku yang dirasakan dan (2) kemungkinan yang dirasakan bahwa perilaku yang dijalankan oleh individu akan menyebabkan diperolehnya hasil. Ketika kedua faktor tersebut meningkat, kekuatan motivasi atau keinginan individu untuk menjalankan perilaku akan meningkat. Pada umumnya, individu cenderung untuk menjalankan perilaku-perilaku yang memaksimumkan balas jasa pribadi dalam jangka panjang.
Kekuatan Motivasi =



Gamabar 14-1. Model ekspektasi motivasi Vroom dalam bentuk persamaan.
Model Motivasi Porter-Lawler
Porter dan Lawler telah mengembangkan suatu model motivasi yang menggambarkan uraian proses motivasi yang lebih lengkap dibandingkan model kebutuhan tujuan atau model ekspektasi Vroom. Model motivasi Portel-Lawler ini konsisten dengan dua model sebelumnya diamana model ini menerima premis bahwa (1) kebutuhan yang dirasakan akan menyebabkan perilaku kemanusiaan; dan (2) usaha yang dilakukan untuk mencapai suatu tugas ditentukan oleh nilai balas jasa yang dirasakan yang dihasilkan dari sutau tugas dan probabilitas bahwa balas jasa tersebut akan menjadi nyata.
Disamping itu, model mptivasi Porter-Lawler menekankan tiga karekteristik dari proses motivasi :
1. Nilai balas jasa yang dirasakan ditentukan oleh baik balas jasa instrindik dan ekstrinsik yang menghasilkan kepuasan kebutuhan ketika suatu tugas diselesaikan. Balas jasa instrinsik berasal langsung dari pelaksanaan suatu tugas, sementara balas jasa ekstrinsik tidak ada hubungannya dengan tugas itu sendiri. Contoh, ketika seorang wirausahawan member bimbingan pada bawahan mengenai suatu masalah pribadi, wirausahawan tersebut mungkin mendapat balas jasa instrinsik dalam bentuk kepuasan pribadi dengan mebantu orang lain.
2. Tingkatan dimana individu secara efektif menyelesaikan suatu tugas ditentukan oleh dua variabel : (1) persepsi individu tentang apa yang diperlukan untuk melaksanakan suatu tugas, dan (2) kemampuan sesungguhnya dari individu untuk menjalankan suatu tugas. Sesungguhnya, efektivitas individu dalam menyelesaikan suatu tugas meningkat ketika persepsi dari apa yang diperlukan untuk melaksanakan suatu tugas menjadi lebih akurat dan ketika kemampuan untuk menjaalankan suatu tugas meningkat.
3. Keadilan balas jasa yang dirasakan akan mempengaruhi jumlah kepuasn yang dihasilkan oleh balas jasa tersebut. Pada umunya, semakin adil balas jasa yang dirasakan ndividu, semakin besar kepuasan yang dirasakan sebagai hasil dari menerima balas jasa tersebut.

Penutup
Sikap dan semangat para konsumen dalam memilih barang sangat di pengaruhi oleh kebutuhan, dari kebutuhan dan tujuan tersebut konsumen termotivasi untuk memenuhi kebutuhannya. Motivasi sangat dibutuhkan oleh produsen sebagai salah satu penilaian atau landasan sebagai penentuan target pasar, pemasaran, dan promosi yang akan dijalankan oleh produsen dalam mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan yang ingin dicapai oleh produsen. Motivasi sangat dibutuhkan untuk mencapa target pasar dan menempatkan produk(positioning) yang akan dijalankan oleh perusahaan.

Daftar Pustaka
Wiratmo, Masykur. 1994. Kewirausahaan. Gunadarma, Jakarta.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tugas Review Jurnal

Review Jurnal 3
Tema : Kredit perbankan sebagai penghambat pengembangan UKM
Masalah : Mimimnya penawaran kredit perbankan yang menyebabkan produktivitas UKM semakin menurun.
Judul : Analisis Pengaruh kredit, Aset dan jumlah pegawai terhadap pendapatan Usaha Kecil Menengah (UKM) penerima Kredit Bank Perkreditan rakyat.
Penulis : Rachmawati Maslik
Hotniar Siringoringo
Tahun Penulisan : -
Latar Belakang Masalah
Permasalahan hamper semua usaha kecil yang tidak bisa berkembang adalah karena kurangnya modal yangm mereka miliki, dan kebutuhan dana tambahan dari pihak luar baik itu berupa bantuan dari pemerintah maupun kredit pinjaman dari lembaga keuangan. Salah satu kebijakan pemerintah yang telah diterapkan adalah dengan cara mengarahkan sector perbankan untuk memperluas jangkauan pelayanannya sampai ke wilayah pedesaan dan menjangkau kalangan pengusaha kecil. Sejak adanya Pakto 88 (Paket Deregulasi 27 oktober 1988) pemerintah memberikan peluang yang lebih besar kepada masyarakat umum untuk ikut dalam mengembangkan sector perbankan. Khususnya sector perbankan yang dapat menjangkau para pengusaha kecil yang ada di wilayah pedesaan.
Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
a. Untuk mengukur pengaruh kredit permodalan terhadap aset perusahaan kecil
b. Untuk mengukur pengaruh kredit permodalan terhadap jumlah pegawai
c. Untuk mengukur pengaruh kredit permodalan, aset dan jumlah pegawai terhadap pendapatan pengusaha kecil yang menjadi nasabah penerima kredit BPR di wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan.
Metodologi
a. Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari BPR, yang meliputi data tentang pendapatan 353 UKM yang menerima kredit BPR baik sebelum maupun sesudah menerima kredit tersebut, jumlah kredit yang diterima, jumlah aset, jumlah pegawai, bidang usaha, domisili nasabah, serta daerah pemasaran produknya.
b. Variabel dalam penelitian ini meliputi variabel bebas yang meliputi kredit permodalan, jumlah aset dan jumlah pegawai UKM. Sedangkan Variabel terikatnya yaitu rata-rata UKM.
Hasil dan Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan model hipotesis yang diajukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa kredit yang diterima oleh UKM dari BPR berpengaruh positif, langsung dan signifikan terhadap jumlah aset. Kredit yang diterima oleh UKM dari BPR berpengaruh positif, langsung dan signifikan terhadap pendapatan UKM. Aset UKM berpengaruh negative, tidak langsung dan signifikan terhadap pendapatan UKM.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tugas Review Jurnal

Review Jurnal 2
Tema : Kredit perbankan sebagai penghambat pengembangan UMKM
Masalah : Tingkat Suku bunga yang masih tinggi dan aksessibilitas UMKM terhadap perbankan masih rendah
Judul : Suku bunga perbankan masih penghambat pembiyaan UMKM Indonesia.
Pengarang : Johnny W. Situmorang dan Jannes Situmorang.
Tahun Penulisan : -

Latar Belakang Masalah
Sumber pembiayaan UMKM berasal dari berbagai lembaga, yakni perbankan dan non perbankan, seperti pasar saham, pemerintah, modal ventura, dan pelepas uang. Perbankan merupakan lembaga yang mempunyai posisi strategis dalam pembiyaan dunia usaha karena bank berfungsi sebagai lembaga intermediasi, disamping sebagai lembaga pembiayaan juga penarik uang masyarakat. Perbankan dalam operasionalnya diawasi langsung oleh Bank Indonesia karena menyangkut pada system moneter. Kebijakan moneter yang bertujuan mempengaruhi suku bunga, secara langsung berkaitan dengan perbankan. Apabila otoritas bank sentral sebagai pengemban fungsi moneter mengeluarkan kebijakan kosntraksi moneter menyebabkan naiknya suku bunga perbankan dan sebaliknya kebijakan ekspasnsi moneter menurunkan suku bunga perbankan.

Batasan Masalah
Bagaimana perkembangan suku bunga selama ini, terutama sejak krisis ekonomi melanda Indonesia. Independensi Bank Sentral Indonesia menjadikan lembaga itu sebagai satu-satunya pengendal pasar uang.

Tujuan
Penulis ingin mengemukakan bagaimana kredit perbankan masih menjadi penghambat UMKM dengan melihat fluktuasi bulanan suku bunga tersebut dengan mencoba menggunakan analisis data berseri berdasarkan suku bunga actual dan trend.

Metodologi
Data yang diperoleh berasal dari Survey Pemeringktan Daerah Dalam Pembangunan Koperasi. Dalam penelitian data yang digunakan adalah mengenai Perkembangan Kredit Bank Umum, KUK dan Kredit. Selain itu, penelitian juga menggunakan perkembangan dan pergerakan tahunan maupun bulanan Pangsa KUK terhadap Total kredit Bank Umum.

Hasil dan Kesimpulan
Dalam rangka pengembangan peran UMKM ke depan, membiarkan bank umum sebagai lembaga pengkreditan UMKM tidak akan mampu mengangkat posisi UMKM karena tingkat suku bunga akan mampu mengangkat posisi UMKM karena tingkat suku bunga akan sulit mencapai angka di bawah 6% per tahun. Perlakuan khusus terhadap UMKM sangat perlu dan hal itu akan dapat dilakukan sepanjang tersedianya lembaga perbankan yang khusus melayani UMKM denagn tingkat suku bunga yang rendah. Berbagai Negara, seperti Thailand dan Jepang, telah mampu mengangkat peran UMKM karena tersedianya bank khusus untuk UMKM sehingga sktor riilnya berkembang baik. Lembaga perbankan khusus untuk UMKM sekaligus dapat menghilangkan hambatan UMKM selain faktor suku bunga dalam mengakses dana perbankan. Sebagai bank umum, semua bank beroperasi di bawah UU perbankan yang mengatur Bank sebagai lembaga komersial. Oleh karena itu, lembaga perbankan komersial tidak mungkin memberikan perlakuan khusus terhadap UMKM dengan cara penerapan suku bunga rendah, kecuali adanya kebijakan moneter yang sangat ekspansif dan subsidi dari pemerintah . kebijakan moneter ekspansif sangat tergantung pada perkembangan ekonomi makro, khususnya menyangkut pengendalian inflasi. Sedangkan subsidi suku bunga tidak menjadi pilihan lagi setelah terjadi reformasi tatanegara dan pemerintahan. Bahkan program pemerintah lebih cenderung menghilangkan segalam macam bentuk subsidi kepada masyarakat.

Saran
Tingkat suku bunga perbankan Indonesia masih sangat tinggi. Bagi UMKM, tingginya suku bunga menjadi pengahambat askesibilitas UMKM untuk pembiyaan yang bersumber dari perbankan. Akibatnya pangsa KUK masih sangat rendah. Tingkat suku bunga bulanan Indonesia berpotensi untuk mencapai tingkat yang lebih rendah sepanjang tahun. Tetapi, pencapaian tingkat suku bunga yang rendah tidak hanya tergantung pada sector moneter, tetapi juga sector nonmoneter, yakni fiskal dan iklim perekonomian.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tugas Review Jurnal

Review Jurnal 1
Tema : Sumber pembiyaan UMKM masih terhambat oleh permasalahan modal dan rentabilitas bank
Masalah : Tingkat Suku bunga yang masih tinggi dan aksessibilitas UMKM terhadap perbankan masih rendah
Judul : Analisis Perilaku Penawaran Kredit Perbankan Kepada Sektor UMKM Di Indonesia (2002-2006)
Penulis : Luh Gede Meydianawathi
Tahun Penulisan : 2007
Latar Belakang Masalah
Sumber utama pembiayaan investasi di Negara berkembang termasuk di Indonesia umumnya masih di dominasi oleh penyaluran kredit perbankan sehingga wajar bila banyak pihak menuding krisis perbankan di Indonesia setelah krisis 1997 merupakan salah satu penyebab lambatnya pemulihan ekonomi Indonesia dibandingkan dengan Negara Asia lainnya yang terkena Krisis (Harmanta dan Ekananda, 2005:52). Membaiknya kondisi makroekonomi dalam beberapa tahun terakhir yang tercermin dari terkendalinya laju inflasi, stabilnya nilai tukar, dan turunnya suku bunga, namun kredit yang disalurkan perbankan belum cukup menjadi mesin pendorong pertumbuhan ekonomi untuk kembali pada level sebelum krisis. Ini berarti bahwa fungsi intermediasi perbankan di Indonesia masih belum pulih. Kredit yang disalurkan perbankan belum cukup menjadi mesin pendorong partumbuhan ekonomi untuk kembali pada level sebelum krisis..
Tujuan
Menguji pengaruh beberapa variabel terhadap penawaran kredit investasi dan modal kerja bank umum secara parsial dan serempak kepada sector UMKM di Indonesia (Januari 2002-Februari 2006).
Metodologi
ö Dalam menguji pengaruh variabel DPK, ROA,NPLS, dan CAR terhadap perilaku Penawaran kredit investasi dan kredit modal kerja yang dikeluarkan bank umum kepada sector UMKM di Indonesia, digunakan data sekunder yang diperoleh dari hasil publikasi Bank Indonesia serta kebijakan-kebijakan lain dalam media harian, jurnal ilmiah atau internet.
ö Pengumpulan data dilakukan, baik melalui observasi terhadap dokumen atau laporan instansi terkait maupun hasil-hasil publikasi, kemudian dilakukan pencatatan terhadap data yang dibutuhkan.
Hasil dan Kesimpulan
ö Hasil
Interaksi antara perbankan dengan para pelaku ekonomi secara langsung melalui penyaluran kredit perbankan akan berpengaruh terhadap perkembangan berbagai aktivitas perekonomian. Dari sisi produksi perkembangan pembiayaan dalam bentuk kredit perbankan akan berpengaruh terhadap kemampuan produksi dunia usaha sehingga akan menentukan output riil dari berbagai sector ekonomi.
ö Kesimpulan
a. Pulihnya kepercayaan terhadap system perbankan dengan adanya program penjaminan pemerintah telah mendorong kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK). Selain itu, program rekapitulasi perbankan mampu mengatasi permasalahan modal dan rentabilitas bank (yang tercermin dalam rasio CAR dan ROA) serta non performing loan (NPLs) yang berhasil ditekan telah meningkatkan kemampuan bank umum dalam menyalurkan kredit investasi dan modal kerja kepada sector UMKM di Indonesia.
b. Hasil uji F selama masa observasi menunjukkan bahwa secara serempak variabel-variabel DPK, CAR, ROA, dan NPLs berpengaruh nyata dan signifikan terhadap penawaran kredit investasi dan kredit modal kerja yang disalurkan bank umum kepada sector UMKM di Indonesia.
Saran
Pemberian kucuran kredit kepada dunia usaha khususnya di sector UMKM perlu ditingkatkan dalam upaya meningkatkan peran perbankan nasional sebagai lembaga intermediasi. Upaya yang dapat ditempuh bank umum antara lain dengan mengaktifkan pos-pos keuangan mikro serta membuat inovasi baru dalam perannya sebagai mikro banking di berbagai wilayah di Indonesia, dengan manajemen yang lebih baik untuk menghindari kemungkinan resiko-resiko kredit macet yang dapat merugikan bank umum di Indonesia.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS